Showing posts with label Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Indonesia. Show all posts

February 19, 2007

STMJ vs Kuvano Vino

Beberapa hari ini saya terserang flu berat, minum obat macems sampai antibiotik dari dokter hanya sedikit membantu pilek dan batuk-batuk yang saya alami. Akhirnya kembali ke resep nenek moyang "kerokan" dan minum susu+kopi+madu+jahe (STMJ kalo mau ditambahi telur) - alhamdullillah badan menjadi hangat dan dikit demi sedikit batuk dan pilek mulai hilang. Kalau di Serbia lain lagi resepnya, namanya "Kuvano Vino" - red wine yang dimasak dicampur dengan cengkeh dan gula sedikit. Resep tradisional Serbia ini cukup manjur untuk mengatasi gejala flu dan untuk menghangatkan tubuh ketika musim dingin tiba.

Resep Kuvano Vino :
500 ml red wine
300 ml air
3 sendok makan gula pasir
1/2 sendok teh cengkeh
sedikit kayu manis

wine, air dan semua bahan dimasak di atas api kecil sampai panas, begitu mendidih angkat terus disaring dan sajikan (resep utk 3 gelas). Selamat mencoba rasanya seperti air tape, tapi hangat dibadan - kandungan alkoholnya sudah berkurang karena menguap waktu dimasak.

February 7, 2007

Tari Piring memukau publik Serbia


Tari piring dari Sumatera Barat yang dibawakan oleh Sdri. Suzana Orlic mantan peserta program Dharmasiswa Pemerintah RI memukau publik Serbia. Setidaknya orang-orang Serbia sedikit menutup mata sambil berdecak kagum ketika Suzana menari-nari diatas pecahan piring. Paling tidak dengan penampilan ini sedikit banyak masyarakat Serbia mengetahui keanekaragaman budaya Indonesia.

Disamping tari piring dibawakan pula tari-tarian dari Bali yang dibawakan oleh putri-putri Diplomat Indonesia dari KBRI Beograd.

January 15, 2007

Kebijakan TI : Indonesia vs Serbia

Lagi-lagi hari ini saya terhenyak dengan program-program yang dilakukan oleh Pemerintah Serbia. Satu lagi bukti bahwa meskipun masih carut marut selepas dari embargo dan kondisi politik dalam negeri yang masih belum begitu stabil, pemerintah Serbia masih mampu berpikir jernih dalam menentukan kebijakan IT-nya. Tanggal 15 Januari 2007 ini Pemerintah Serbia akan menandatangani Letter of Intent dengan RedHat Corporation salah satu pengembang distro Linux (software open source). Coba bandingkan dengan Pemerintah kita, alih-alih mendukung program IGOS (Indonesia Goes to Open Source) eh malah melakukan penandatanganan MoU dengan Microsoft yang akan mengurangi anggaran kita kurang lebih US$ 145 juta untuk membayar lisensi Windows sebanyak 35.396 dan Microsoft Office sebanyak 177.480. Ironisnya program IGOS itu sendiri merupakan gawenya Pemerintah, misalnya anggaran yang untuk membeli lisensi diambil US$ 45 juta saja untuk mendukung IGOS tentunya beberapa tahun kedepan kita sudah bisa beralih ke software open source dengan smooth.

Ironisnya lagi, alasan yang dikemukakan oleh Meneg Kominfo dihadapan Komisi I DPR adalah "Kalau hari ini komputer Pemerintah semuanya di-install Open Source maka aktivitas pemerintahan tidak akan jalan" (sumber detik.com tanggal 15 Januari 2007) rinciannya :
  1. Komputer pemerintah perlu di upgrade sebelum pindah ke open source.
  2. Kemampuan sumber daya manusia belum memadai.
  3. Soal dukungan driver bagi berbagai perangkat pendukung komputer (contoh : driver printer).
Mungkin kalau alasan itu dikemukakan didepan orang-orang yang awam komputer atau anak kecil akan bisa diterima tetapi kalau disampaikan didepan praktisi komputer pastinya langsung banyak suara interupsi disana-sini. Kenapa bisa saya katakan begitu karena argumentasi yang disampaikan oleh Meneg Kominfo dengan mudah dapat dipatahkan :
  • argumentasi 1 - justru dengan Linux kita masih bisa memanfaatkan komputer-komputer lama kelas Pentium II dan III sebaliknya kita tidak akan bisa menggunakan Windows XP di Pentium II (CMIIW).
  • argumentasi 2 - IGOS sudah dicanangkan sejak tanggal 30 Juni 2004 yang nota bene sudah 2 tahun lebih, kalau memang Pemerintah punya goodwill tentunya program-program pelatihan yang terpadu dan berkesinambungan menuju software open source telah dilakukannya selama kurun waktu tersebut. Mosok kurun waktu 2 tahun tidak cukup untuk melatih pegawai negeri kita, yang saya amati dan alami adalah para pegawai negeri kita tidak pernah mendapatkan pelatihan itu karena memang program IGOS setengah hati didukung oleh Pemerintah kita.
  • argumentasi 3 - dukungan driver akan mudah kita cari kalau kita mau sedikit bersusah payah mencarinya di komunitas open source yang bertebaran di dunia maya - intinya kita mau sedikit usaha.
kalau memang alasannya untuk mengurangi pembajakan di instansi Pemerintah saya setuju tapi kalau 3 alasan tadi yang dikemukakan 100% saya tidak setuju - bolehlah kita membeli lisensi tapi kan tidak harus semua komputer pemerintah menggunakan produk Microsoft. Asal ada goodwill dan dukungan dari petinggi Republik ini tentunya IGOS akan dengan mudah diterapkan. Langkah awalnya bisa hanya digunakan di server milik pemerintah kita sambil melakukan edukasi kepada PNS dan dengan biaya yang sebesar itu untuk membeli lisensi kalau dialihkan untuk program IGOS saya yakin tidak lama kita bisa beralih ke software open source.

Kegamangan proses migrasi ke produk open source biasanya disebabkan oleh kegamangan SDM untuk beralih karena malas untuk belajar, apakah karena kemalasan ini terus kita tidak mau berubah? apakah karena kemalasan ini terus kepentingan nasional kita yang lebih besar kita korbankan? jawabannya ya ada pada diri kita sendiri - mau tidak kita untuk berubah, setiap perubahan pasti ada ongkosnya - jer basuki mawa bea.

January 10, 2007

Promosi Wisata : Indonesia vs Serbia

Hari ini saya sangat tergelitik ketika membaca salah satu harian lokal di Beograd, Serbia telah mencanangkan untuk melakukan promosi wisata dengan menggandeng jaringan CNN dengan slogan "Moments to Remember", anggaran yang dikeluarkan mencapai kurang lebih euro 500.000,- dan tentunya sebentar lagi kita akan bisa menikmati clip promosi wisata tersebut di jaringan CNN. Kenapa saya angkat dalam tulisan hari ini, karena sangat ironis menurut pendapat pribadi - Indonesia dengan tujuan wisata yang beraneka ragam dan anggaran promosi yang jauh lebih besar (anggaran promosi kita utk tahun 2004 saja sudah mencapai 9o miliar rupiah) terasa sangat hambar utk program promosinya karena keliatannya kita tidak mempunyai konsep promosi yang terintegrasi. Serbia dengan kondisi ekonomi yang masih morat marit akibat hantaman embargo selama 10 tahun dan kondisi politik dalam negeri yang masih gonjang-ganjing masih bisa berpikir jernih dengan mengeluarkan konsep promosi yang cukup solid.

Dalam era komunikasi saat ini justru kita masih tetap menggunakan cara-cara konvensional dalam melakukan promosi, iklan promosi di CNN merupakan salah satu cara yang cukup ampuh - sekali tayang paling tidak 127 juta orang akan melihatnya, bandingkan dengan cara-cara konvensional yang hanya menyebarkan brosur atau melakukan pertunjukan misi kesenian melalui kedutaan kita. Anggaran yang dikeluarkan pun mungkin akan sebanding apabila kita memanfaatkan jaringan televisi atau melakukan cara konvensional, yang jelas kalo saya lihat kita tidak mempunyai "goodwill" untuk melakukannya. Pernah satu atau dua kali saya lihat clip promosi Indonesia di CNN tapi kelihatan sekali kita tidak punya konsep yang berkesinambungan - padahal clip promosi yang kita miliki (yang pernah saya lihat dalam bentuk CD) tidak kalah atau malah lebih bagus ketimbang yang ditayangkan oleh negara lain. Percuma saja kalo kita sudah membuat clip dengan biaya yang mahal tapi tidak terdistribusi atau tidak ditayangkan.

Satu hal lagi yang menurut saya kurang "sreg", kita hanya sebatas mempromosikan Bali yang menurut pendapat saya sudah tidak perlu dipromosikan lagi karena semua orang di dunia ini sudah tahu Bali. Disamping tetap mempromosikan Bali kita harus mempromosikan obyek wisata lain yang bertebaran dari ujung barat sampai ujung timur Indonesia. Saya punya pengalaman pribadi, suatu ketika saya melakukan perjalanan dari Beograd menuju Berlin melalui jalan darat. Pada saat istirahat di sebuah restoran, saya sempat berbincang-bincang dengan beberapa orang bule di cafe bar - ketika tahu saya dari Indonesia, mereka bertanya tentang Bali karena mereka tertarik untuk pergi surfing di Uluwatu. Ketika saya menyebut Nias dan Lombok mereka sedikit terheran-heran dan komentar mereka "Nah itu salah satu kesalahan pemerintah anda, kenapa tidak mempromosikan obyek lain selain Bali - kita tahunya ya hanya Bali" deg hati saya ketika mendengar hal itu. So, tentunya kita juga tidak heran ketika Borobudur tidak masuk dalam rating sebuah polling salah satu 7 keajaiban dunia yang diselenggarakan oleh sebuah LSM New 7 Wonders karena apa tidak semua orang di dunia ini tahu Borobudur - karena kesalahan kita tidak pernah mempromosikan Borobudur.

Semoga tulisan saya ini salah dan semoga Pemerintah kita sudah punya konsep promosi yang jelas - sia sia saja anggaran promosi yang besar kalau konsepnya tidak jelas.