October 17, 2011

Facebook, Google, Yahoo = Open Source Intelligence

Internet tidak dipungkiri telah memberikan segudang manfaat bagi kehidupan manusia, salah satunya adalah wahana penyedia informasi. Manfaat dari informasi yang diperoleh tergantung dari sudut pandang pemakainya – bisa digunakan untuk hal-hal yang baik, bisa juga digunakan untuk berbuat jahat. Dari sudut pandang aparat keamanan khususnya aparat intelijen, internet merupakan sumber intelijen terbuka yang maha luas tergantung teknik yang digunakan. Petikan wawancara Julian Assange (Wikileaks.org) dengan RT Russia baru-baru ini cukup menarik untuk disimak.

RT: And social networking, what role, do you think, sites like Facebook and Twitter, have played in the revolutions in the Middle East? How easy, would you say, is it to manipulate media like that?

JA: Facebook in particular is the most appalling spying machine that has ever been invented. Here we have the world’s most comprehensive database about people, their relationships, their names, their addresses, their locations and the communications with each other, their relatives, all sitting within the United States, all accessible to US intelligence. Facebook, Google, Yahoo – all these major US organizations have built-in interfaces for US intelligence. It’s not a matter of serving a subpoena. They have an interface that they have developed for US intelligence to use.

Now, is it the case that Facebook is actually run by US intelligence? No, it’s not like that. It’s simply that US intelligence is able to bring to bear legal and political pressure on them. And it’s costly for them to hand out records one by one, so they have automated the process. Everyone should understand that when they add their friends to Facebook, they are doing free work for United States intelligence agencies in building this database for them.

Dengan cara-cara yang dikemukakan oleh Assange, bagi aparat intelijen Amerika tentu akan lebih mudah memanfaatkan informasi yang terkumpul. Pertanyaannya apakah hanya Amerika saja yang bisa memanfaatkannya, tentu saja tidak. Semua aparat intelijen maupun perorangan bisa memanfaatkan informasi yang sudah tersedia bebas di internet tergantung teknik yang digunakannya untuk mengambil informasi tersebut.

Dikalangan militer, intelijen dan analis telah dikenal luas apa yang dinamakan open source intelligence (OSINT), sebuah teknik yang memanfaatkan internet sebagai sumber intelijen terbuka yang akan digunakan untuk melengkapi informasi yang dikumpulkan secara tertutup. NATO mendefinisikan OSINT sebagai unclassified deliberately discovered, discriminated, distilled and disseminated to a select audience in order to address a specific question. It provides a very robust foundation for other intelligence disciplines. Teknik ini melibatkan pemanfaatan search engine lebih khusus deep web search dan teknik-teknik analisis yang digunakan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang telah didefinisikan sebelumnya. Contoh ilustrasinya adalah apabila kita ingin melakukan profiling terhadap seseorang sebut saja Upik Abu, Facebook mungkin akan jadi rujukan pertama yang dilanjutkan googling dan mencari informasi specific lainnya melalui deep web search, di analisis sampai akhirnya akan terbentuk profile yang utuh dari si Upik Abu.

Cukup geli juga ketika beberapa waktu yang lalu beberapa orang yang meributkan BIN yang akan memantau Facebook. Sah-sah saja BIN melakukannya karena memang sudah menjadi tugasnya, nggak usah ribut-ribut dengan dalih melanggar hak privasi dan lain-lain karena memang informasinya tersedia luas di internet…kecuali memang ingin aktivitas kita di internet tidak diketahui orang …ada caranya tersendiri ….

April 22, 2010

Terbengkalai

sudah setahun lebih blog ini dibiarkan menganggur ... mudah-mudahan blog ini bisa menjadi lebih rame lagi untuk menceritakan suasana kehidupan di tempat yang baru.

July 24, 2009

Akta Kelahiran dan Carut Marut DPT

Barusan dengerin berita di TPI, ternyata mengurus akta kelahiran membutuhkan biaya yang cukup lumayan Rp. 350.000,-. Bagi orang berduit uang segini tidak ada artinya tapi bagi kaum papa akan terasa sekali. Dalam siaran tersebut Kepala Catatan Sipil DKI mengatakan bahwa Akta Kelahiran bagi keluarga miskin digratiskan, tapi ada kesaksian dari seorang ibu yang diwawancarai ternyata prakteknya masih mengeluarkan ongkos sebesar Rp. 350.000,-.

Sebenarnya syarat untuk mengurus akta kelahiran cukup melampirkan surat kelahiran dari rs/dokter/bidan, foto copy KTP, dan foto copy Akta Nikah. Akta Kelahiran akan selesai dalam waktu 2 minggu. Syarat ini tidak beda jauh ketika saya mengurus Akta Kelahiran buat anak saya di Beograd, bedanya saya bisa mendapatkannya dengan gratis dan cuma memakan waktu 15 menit. Akta yang dikeluarkan oleh Pemerintah Kota Beograd kemudian saya laporkan ke KBRI.

Yang ingin saya soroti adalah cara pemberian Akta Kelahiran ini dan hubungannya dengan data kependudukan. Carut marut DPT Legislatif maupun Pilpres bisa dihindari manakala data kependudukan kita valid. Data kependudukan bisa dimulai dari pengurusan Akta Kelahiran ini, begitu seorang bayi lahir, rumah sakit atau bidan yang menanganinya membuatkan surat kelahiran dan menyerahkan ke catatan sipil, Catatan Sipil kemudian membuat nomor induk kependudukan berdasarkan surat kelahiran ini. Begitu sudah tercatat, pihak RS menghubungi orang tua bayi tersebut untuk mengurus Akta Kelahirannya di Kecamatan/Kelurahan yang telah ditunjuk oleh Catatan Sipil dimana berkas-berkasnya sudah ada. Cara-cara itu yang diterapkan oleh Pemerintah Serbia, dimana di akta kelahiran itulah tercantum Nomor Induk Kependudukan (NIK) setiap warganya, beda dengan Akta Kelahiran kita tidak ada Nomor Induk Kependudukannya. NIK di tempat kita ditemukan di KTP yang notabene tidak valid karena KTP bisa dobel-dobel dan data tersebut tidak terintegrasi antara satu daerah dengan daerah lainnya. Teknologi informasi bisa memecahkan masalah integrasi data ini, yang dibutuhkan adalah kemauan dari para stakeholdernya apakah itu Depdagri, BPS maupun instansi lain yang berkepentingan dengan data kependudukan ini.

Dengan tercantumnya NIK di akta kelahiran, bisa dirujuk untuk setiap keperluan baik itu buat KTP, Pajak, SIM maupun untuk urusan lainnya seperti DPT.

Mudah-mudahan Depdagri dan instansi berwenang lainnya mulai segera merealisasikan Single Identity Number ... lupakanlah ego sektoral masing-masing Departemen untuk kepentingan bangsa ini yang semakin amburadul dalam tata kelola kependudukan.

June 8, 2009

Marketing : Belajar dari Kasus Prita

Tentunya tujuan para sales marketing adalah menarik pelanggan sebanyak-banyaknya untuk bisa membeli produk atau jasa yang mereka tawarkan. Kasus menarik yang menimpa Ibu Prita salah satu pasien yang dikecewakan oleh rumah sakit dimana dia dirawat sampai ke ranah hukum pidana dan perdata sungguh sangat tidak mengenakan. Tidak ada yang diuntungkan dalam kasus ini, alih-alih mendapatkan apa yang menjadi tuntutannya Rumah Sakit tersebut malah mendapatkan bad campaign/negative campaign atas cara-cara responnya terhadap keluhan Ibu Prita di mailing list.

Mailing list, dan sekarang blog merupakan salah satu wahana tempat curhatan para netter. Diskusi seringkali dilakukan untuk membahas suatu produk atau jasa, komentar yang bermunculan pun beragam, ada yang positif ada juga yang negatif. Manakala ada suatu produk yang dikeluhkan oleh konsumennya, respon yang paling ampuh adalah membahasnya dimilis tersebut atau di blog sehingga akan terjadi opini yang berimbang.

Saya pun terkadang berkeluh kesah lewat media ini (blog maupun mailing list) untuk mendapatkan masukan tentang suatu produk atau apa langkah yang saya harus ambil ketika dikecewakan olehu suatu produk atau jasa. Referensi dari hasi diskusi semacam ini bertebaran di internet, referensi yang positif maupun yang negatif... tapi sepengetahuan saya tidak pernah ada penulis referensi negatif yang dituntut ke meja hijau dengan dalih pencemaran nama baik ... mudah-mudahan kasus Prita ini bisa menjadi pembelajaran bagi kita semua baik konsumen maupun produsen dalam merespon keluhan atas produk atau jasa.